Tentang Diam yang Tidak Pernah Benar-Benar Kosong
Tentang Diam yang Tidak Pernah Benar-Benar Kosong
Ada saat-saat ketika dunia terasa sunyi. Tidak ada suara yang mendesak, tidak ada percakapan yang perlu dijaga, tidak ada peran yang harus dimainkan. Kita menyebutnya diam. Namun, semakin lama berada di dalamnya, semakin kita sadar: diam tidak pernah benar-benar kosong.
Dalam keheningan, pikiran justru berbicara paling jujur. Kenangan yang selama ini tersembunyi muncul tanpa permisi. Perasaan yang kita tunda, perlahan mengetuk dari dalam. Diam menjadi ruang di mana kita tidak bisa lagi bersembunyi dari diri sendiri.
Sering kali kita takut pada sunyi karena ia memaksa kita untuk mendengar. Bukan suara orang lain, melainkan suara hati yang selama ini kita redam dengan kesibukan. Kita mengisi hari dengan aktivitas, layar, dan obrolan, seolah kelelahan lebih aman daripada menghadapi isi kepala sendiri.
Padahal, diam tidak datang untuk menyakiti. Ia hadir sebagai jeda. Sebuah kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan, tanpa perlu menjelaskannya pada siapa pun. Dalam diam, kita belajar bahwa tidak semua kegelisahan perlu solusi cepat. Beberapa hanya ingin diakui keberadaannya.
Ada ketenangan aneh ketika kita berhenti melawan sunyi. Ketika kita membiarkan perasaan duduk di samping kita, tanpa diusir atau dihakimi. Di sanalah kita menyadari bahwa diri kita tidak rusak—hanya lelah.
Diam mengajarkan satu hal penting: bahwa mendengarkan diri sendiri adalah bentuk keberanian. Dan mungkin, di antara semua kebisingan dunia, kejujuran paling murni justru lahir saat kita berani berhenti sejenak.
Karena pada akhirnya, diam bukan ketiadaan. Ia adalah ruang. Dan di dalam ruang itulah, kita perlahan pulang ke diri sendiri.
---

Ulasan
Catat Ulasan