Surat Untuk Versi Diriku 5 Tahun yang Lalu




 ðŸŒ¿


Surat Untuk Versi Diriku 5 Tahun yang Lalu

Hai, kamu yang lima tahun lebih muda dariku.

Aku menulis ini bukan karena aku sudah sepenuhnya baik-baik saja, tapi karena aku akhirnya cukup berani untuk menengok ke belakang tanpa ingin lari. Kalau kamu sedang membaca ini di masa lalu, mungkin kamu sedang lelah, mungkin juga sedang pura-pura kuat. Aku ingat betul kebiasaanmu itu: tersenyum di luar, berisik di kepala.

Aku ingin bilang satu hal sederhana: kamu tidak rusak. Kamu hanya sedang belajar.

Kamu sering merasa tertinggal, merasa hidup orang lain melaju lebih cepat, sementara kamu seperti berjalan di tempat. Kamu menghitung pencapaian orang lain dan menjadikannya penggaris untuk mengukur nilai dirimu sendiri. Aku tahu rasanya—sesak, iri, lalu menyalahkan diri sendiri diam-diam. Andai saja waktu itu kamu tahu: hidup bukan lomba lari, dan kamu tidak pernah benar-benar terlambat.

Ada hari-hari ketika kamu merasa keputusanmu selalu salah. Ketika apa pun yang kamu pilih terasa berujung pada ragu. Aku ingin memelukmu dan berkata: tidak apa-apa. Beberapa pilihan memang tidak membawa kita ke tempat yang kita inginkan, tapi sering kali justru membawa kita ke tempat yang kita butuhkan.

Kamu juga sering terlalu keras pada diri sendiri. Kamu memaafkan orang lain dengan mudah, tapi menyimpan daftar panjang kesalahanmu sendiri. Tolong, pelan-pelan ya. Kamu boleh kecewa, kamu boleh sedih, kamu boleh berhenti sebentar. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu butuh waktu untuk bernapas.

Tentang luka—iya, aku tahu kamu mencoba terlihat baik-baik saja. Kamu pikir kalau kamu diam, semuanya akan sembuh sendiri. Nyatanya, beberapa luka memang butuh waktu, dan beberapa lagi butuh keberanian untuk diakui. Tidak apa-apa kalau kamu belum kuat hari ini. Kuat itu bukan berarti tidak pernah jatuh, tapi mau bangun lagi meski lutut masih gemetar.

Lima tahun setelahmu, aku tidak menjadi versi yang sempurna. Hidup masih berantakan di beberapa sudut. Masih ada ragu, masih ada takut. Tapi ada satu hal yang berubah: aku lebih lembut pada diri sendiri. Dan itu, ternyata, sudah cukup membuat hari-hari terasa lebih ringan.

Jadi, kalau kamu sedang merasa sendirian sekarang, dengarkan ini baik-baik: kamu tidak sendirian. Aku di sini, di masa depanmu, hidup karena kamu tidak menyerah hari ini.

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih sudah mencoba, meski sering dengan air mata. Terima kasih sudah tetap berjalan, meski tidak selalu tahu ke mana arah tujuan.

Kita mungkin belum sampai, tapi kita sedang menuju ke sana.

Dengan penuh pengertian,
Aku, yang kamu perjuangkan hari ini.



Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Berhenti Sejenak: Pentingnya Slow Living di Tengah Dunia yang Serba Cepat

Ketika Senyap Lebih Jujur daripada Kata

Cara Efektif Membuat Presentasi yang Menarik dan Tidak Membosankan