Sepi yang Mengajariku Diam
**“Sepi yang Mengajariku Diam”**
### Isi:
Hari ini langit berwarna abu-abu pucat, seakan ikut menyimpan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Di luar jendela, gerimis turun perlahan, menempel di kaca lalu jatuh seperti butir-butir ingatan yang enggan hilang.
Aku duduk dengan secangkir teh hangat, menatap lembar catatan yang kosong. Terkadang, sunyi terasa lebih bising daripada suara keramaian. Ada gema dalam hati, semacam bisikan lirih yang berkata: *“Tenanglah, kau tidak harus selalu berlari.”*
Di antara diam dan sepi, aku belajar satu hal: tidak semua hal perlu segera dijawab. Ada pertanyaan yang butuh waktu untuk matang, ada luka yang butuh ruang untuk sembuh. Dan ada hati yang harus belajar menerima ritme perlahan dari hidup.
Aku ingin mengabadikan momen ini—bukan karena ia indah, tapi karena ia nyata. Ada kehangatan yang sederhana ketika hujan jatuh di luar sana, ketika udara lembap memeluk ruangan, ketika aku merasa cukup hanya dengan keberadaanku sendiri.
Kadang, kebahagiaan bukan soal tawa atau pesta. Ia bisa hadir dalam secangkir teh, dalam hujan sore, dalam sepi yang mengajariku diam.
---
Ulasan
Catat Ulasan